Penyakit Masyarakat Selalu Di Pandang Sebelah Mata

Grobogan Metro Realita Cyber - Fenomena ini masih kerap terjadi di Kabupaten Grobogan Gepeng dan Pengemis liar (18/7) ditertipkan oleh satpol PP yang langsung dipimpin oleh Daru Wisakti SH ,Razia melibatkan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Grobogan dibantu oleh anggota anggota Satpol lainya, dengan rombongan bergerak dari pusat Kota Purwodadi menuju selatan operasi penertipan ini berjalalan hingga sampai merambah ke tingkat
kecamatan,namun yang tertangkap hanyalah segelintir orang saja,bayangkan bila satpol PP ingin mendapatkan Gepeng tersebut lebih banyak seharusnya mengatur strategi ,bisa saja gepeng melihat gerakan satpol PP langsung seketika ganti baju untuk mengelabuhi petugas.
Satpol PP Kabupaten Grobogan dalam aksinya menangkap juga harus dapat memberi pembinaan terhadap gepeng seperti memberi penyuluhan terhadap kreatifitas dan berfikir mencari uang bahkan bis dapat menciptakan lapangan pekerjaan.Keadaan di Grobogan inilah yang membuat gepeng bertaburan dan berkeliaran dimana mana ,Grobogan yang belum adanya perusahaan yang menampung pengangguran ,belum adanya pabrik besar ,belum adanya universitas yang berdiri hingga gepengpun meraja lela ,kondisi seperti ini Metro akan mewancarai Gepeng yang telah tertangkap oleh PP.”adik dari mana,apa tidak malu tertangkap hingga di bawa kekantor ? gepeng dengan nama Slamet (37) penduduk Brati menjawab.”saya slamet karena kondisi seperti ini saya mengamen ,bila malam hari saya mengemis di Jl R Soeprapto Purwodadi ini demi untuk menafkahi kedua orang tua saya yang hidupnya kurang mampu dan ketiga adik saya yang masih sekolah sudah 4 bulan belum bisa bayar uang gedung ,dan saya tidak pernah merasa malu jadi pengemis seperti ini pak.” walaupun harus keluar masuk dan tertangkap oleh Satpol PP ,yang lebih malu lagi kenapa pak wartawan hanya menyudutkan kehidupan saya dengan mempublikasikan sepihak ,dan pejabat yang sudah menjadi wakil rakyat duduk di kursi empuk membuat aturan dan kebijakan belum pernah menyentuh bagaimana nasib kami untuk dapat bekerja bahkan saya hanya mengemis untuk mengais rezki yang halal dari dermawan ,yang penting tidak maling atau korupsi to Pak.”kata Slamet Gepeng
Momentum seperti ini seharusnya bisa dijadikan sebagai bahan refleksi terhadap silang-sengkarutnya dunia anak yang terkebiri dan termarginalkan. Tak jarang anak-anak dari keluarga tak mampu sering “dipaksa” untuk secepatnya menjadi dewasa dengan beban tanggung jawab ekonomi keluarga secara berlebihan sehingga mereka tak sempat menikmati masa kanak-kanak yang ceria dan menyenangkan. Sudut-sudut kota pun sarat dengan keliaran anak-anak jalanan. Ironisnya, tak sedikit aparat yang menilai kehadiran mereka sebagai sampah masyarakat yang mesti dikarantina tanpa ada kemauan politik untuk membebaskan mereka dari cengkeraman kemiskinan dan ketidakadilan.
Anak jalanan, agaknya masih menjadi salah satu problem klasik negara-negara berkembang, termasuk di negara kita. Kehadiran mereka di sudut-sudut kota yang pengap dan kumuh bisa jadi sangat erat kaitannya dengan jeratan kemiskinan yang menelikung orang tuanya. Masih jutaan keluarga di negeri ini yang hidup di bawah standar kelayakan. Untuk menyambung hidup, mereka dengan sengaja mempekerjakan anak-anak untuk berkompetisi di tengah pertarungan masyarakat urban yang terkesan liar dan kejam. Kekerasan demi kekerasan seperti mata rantai yang menempa sekaligus menggilas anak-anak miskin hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang terbelah. Tentu saja, kita tidak bisa bersikap apriori dengan mengatakan, “Salahnya sendiri, kenapa miskin?” Hmmm … kalau saja mereka punya pilihan untuk dilahirkan, sudah pasti tak ada seorang pun anak manusia yang ingin lahir dan besar di tengah-tengah deraan kemiskinan orang tuanya.
Dari sisi latar belakang kehidupan keluarga yang sangat tidak nyaman untuk tumbuh dan berkembang secara wajar, sesungguhnya tak ada tempat untuk menyia-nyiakan anak-anak miskin yang terlunta-lunta hidup di jalanan. Kehadiran mereka justru perlu diberdayakan dengan sentuhan lembut penuh kemanusiawian. Namun, berkembangnya sikap latah dan kemaruk ingin menjadi kaum borjuis dan bergaya hidup feodal secara instan agaknya telah membakar dan menghanguskan nilai-nilai kemanusiawian itu. Alih-alih menyantuni, gaya hidup borjuasi dan feodalistik itu, disadari atau tidak, justru telah memosisikan anak-anak jalanan makin kehilangan kesejatian dirinya. Kata-kata kasar dan perlakuan tak senonoh sudah menjadi hiasan hidup dalam keseharian anak-anak jalanan. Orang-orang kaya yang seharusnya bisa memberdayakan dan menggerakkan semangat hidup mereka justru makin tenggelam dalam sikap hipokrit, pongah, dan kehilangan kepekaan terhadap nasib sesama.
Kondisi itu diperparah dengan keadaan Kabupaten Grobogan yang belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan memadai buat mereka. Melalui tangan-tangan aparatnya, anak-anak jalanan justru digaruk dan dihinakan di atas mobil bak terbuka; diarak dan dipertontonkan kepada publik. Sungguh, sebuah perlakuan purba yang jauh dari nilai-nilai kesantunan masyarakat beradab.(Gus Murgan)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...