20 RUMAH DI GROBOGAN TERANCAM AMBRUK

Grobogan Metro Realita Cyber
Tidak hanya di pedalaman dan perdesaan saja yang terkena musibah bencana alam ,Namun di dalam kota Purwodadi ratusan juta harta benda milik rakyat juga ikut melayang seperti Puluhan Unit Mobil atau Sepeda motor harus turun ke bengkel service ganti oli,TV maupun peralatan elektronik lainya yang terendam akibat tak terselamatkan,mebel kursi meja yang terbuat dari Triplek hancur terendam,Hasil pertanian terendam,kuwalitas gabah merosot
,cat dinding tembok maupun kayu yang terkena hujan Lumpur bahkan semua peralatan mereka mengalami rusak berat,kerugian materiel,waktu dan tenaga,sampai saat ini masih sebagai musibah terbesar di Kabupaten Grobogan.Namun Ironis sekali setelah ditunggu tunggu bantuan belum juga datang,sepertinya pemerintah kabupaten Grobogan sudah tutup mata dan telinga menerima lolongan warga yang menderita.
Seperti yang dikatakan Agus (37) warga Jln Hayam Wuruk Banaran III Purwodadi Ketua Forum Analis Sosial (FAS).”kami sangat menyayangkan atas musibah ini,seharusnya kampung kami di lihat dengan mata yang lebar lebar dampak dari banjir,kami sendiri mengalami kerugian yang luar biasa dua computer milik kantor dan peralatan lainnya juga bablas tak terselamatkan,padahal itu sebagai fasilitas kerja satu satunya.Pihak kami juga sudah koordinasikan kepada Pemerintah Kabupaten Grobogan .
Kenyataan ini juga disebabkan karena pengamanan Hutan untuk pemberdayaan semua unit kerja perhutani KPH Purwodadi maupun KPH Gundih dinilai belum tuntas,pasalnya pohon jati di Kabupaten Grobogan sudah lagi tak nampak menjulang keberadaanya,Praktik Ilegal Loging dan maraknya pencurian kayu jati sehingga tanpa disadari akan berdampak buruk bagi masyarakat itu sendiri.seperti kejadian tanah longsor erosi ,dan banjir .Menurut para pengamat hutan Trenggono (36) warga Desa Godong Kabupaten Grobogan yang tergabung dalam anggota (GMP-L) Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan mengatakan.”Sebelum hasil hutan Habis dipangkas baiknya ada reboisasi ,dan jangan sampai di habisi dulu kayunya kemudian baru di tanami kembali hal ini akan berdampak tidak baik seperti tanah tidak kuat menampung luapan air akibatnya erosi dan banjir,bila perhutani baru bergerak setelah kayu habis ini kurang efisien seharusnya sejak dini melakukan pengamanan hutan dengan sistim TM-T3 (Terprogram ,Menyeluruh ,Terpadu dan Terjadwal ),Pelatihan kesemaptaan Polhuter di BKPH untuk keamanan hutan yang melibatkan jagawana dan masyarakat dilibatkan dalam sosialisasi yang tak terputus manfaat untuk lebih dapat mengenal UURI No 41 tentang kehutanan .”kata Trenggono.
Memulihkan hutan seperti dulu sangat sulit,sekarang seharusnya justru mempertahankan mumpung belum habis dijarah.Dengan menjaga kelestarian hutan akan dapat melindungi lingkungan daerah aliran sungai(DAS) dan menjaga aneka ragam hayati.
Akibat kurangnya pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan di Kabupaten Grobogan maka saat musim hujan terjadi erosi ,banjir bandang sebagai korbanya adalah rakyat sendiri.
Seperti kejadian dibawah ini siapa yang bertanggung jawab ? Hingga puluhan rumah milik warga Dusun Mojoroto Desa Crewek Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, yang berada di tepi Sungai Soyo, bermuara di sungai besar Lusi terancam longsor. Bahkan banyak keluarga harus meniggalkan rumahnya untuk menyelamat diri dari ancaman arus sungai soyo yang meluap bahkan rumahnya yang ambruk tak dapat diselamatkan.
AKIBAT HUTAN GUNDUL SUNGAI SOYO TAK MAMPU MENAHAN LUAPAN AIR
Staf Kecamatan Kradenan, Suharto, kepada InfoPlus Kamis (13/3),menjelaskan, di wilayah Kradenan beberapa jam sebelumnya di guyur hujan deras. Air yang berasal dari gunung kendang utara, ketika hujan mengalir ke Sungai Soyo,Desa Crewek menuju arah utara bermuara di sungai besar lusi dengan kecepatan tinggi.
Tebing Sungai Soyo dengan kedalaman sekitar 7 meter,panjang 3.650 meter,tak mampu menahan derasnya aliraan air. Akibatnya 20rumah yang berada tak jauh dari tebing Sungai Soyo ikut tergerus air. Kini keadaan rumah-rumah itu sangat mengawatirkan, akibat terjadinya longsor
Ke-20 rumah yang harus di relokasi ke tempat yang lebih aman masing-masing milik; Sarman, Legi, Firtono, Sumardi, Jasmi, Wagiyo, Gunadi, Rusdi, Nyamin, Parmo, Suparmin, Japar, Sarman, Kemis, Tono, Turimin,Suwadi, Sarmin,Samsi. dan Supomo mereka berlari menuju tempat yang lebih aman, karena rumah milknya kini keadaannya sudah mengawatirkan, (hampir roboh tergerus air sungai-Red)
Warga yang rumahnya terancam longsor mengharapkan kepada pihak Pemdes untuk segera pindah dan diberi tempat yang lebih aman. Namun Pihak Pemerintahan Desa Crewek sejauh ini belum ada rencana merelokasi mereka. Hal itu terbentur oleh lokasi dan anggaran yang harus di persiapkan untuk warga yang rumahnya terancam longsor tersebut.
“Saya dan teman –teman di sini sangat mengharapkan sekali, pemerintah untuk memikirkan pindah tepat yang aman. Sebab lokasi rumah keadaannya sangat mengawatirkan, adanya tebing terancam longsor. Untuk pindah secara swadaya saja tidak mampu mengingatkalau mencari dana secara mendadak seperti ini sangat sulitdan sampai saat ini warga mengharapkan bantuan belum juga turun “kata beberapa warga Crewek. (Bagus Murgan)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...